Dia yang menjadi harianku dalam penantian surat.
Aku rasanya ingin sekali mengetahui dengan cepat perasaan
dia kepadaku.
Aku ingin dia mengerti bahwa perasaanku takkan berubah
sedikitkpun kepada dia.
Hari selalu berlalu hingga datang saat titik jenuhku menunggu
surat dia.
Surat selalu pak pos kirimkan, namun bukan dari sang
pangeran harianku yang mengirim.
lalu kemana dia ? Apakah dia pergi begitu saja setelah
membuatku sedikit bangkit dari keterpurukan ?
Aku beranikan diri untuk mengirim surat kepdanya, tak peduli
orang tuanya yang menerima.
Akan aku katakan bahwa jangan dia memberi ku harapan bila
memang itu tidak berdasarkan dengan harapan. Aku memang tak mengharapkannya
tapi sungguh dia telah membuatku seakan dia memaksaku untuk berharap.
Aku kirimkan surat itu melalui pak pos yang sedia tak ku
bayar.
2 hari kemudian, pak pos memberiku surat, dia kata dari sang
pangeran harian ku yang selalu aku nanti, ternyata dia tau tentang pangeranku.
Dan saat aku baca sungguh semua diluar kendaliku.
Dia berkata 'sudahlah tak usah berharap bila memang kau
anggap seperti itu, tak usah kau tunggu suratku setiap hari. Tak usah kau
tunggu dan ladeni suratku ini. Dan semua itu Beres'.
Sebegitu gampangkah dia berkata?! Oh sungguh kini aku yakin
bahwa dia hanyalah seorang pembawa kuburukan dan bukan seorang pangeran
harianku.
Ingin rasanya aku tak pernah mengenalnya sejak dulu bila
memang akhirnya seperti ini.
Surat darinya? Surat yang telah terteteskan air mataku itu
tlah aku berikan kepada sang perubah kertas, aku berikannya kepda dia ditengah
malam dan dalam beberapa menit saja dia telah mengubah kertas surat usang itu
menjadi sebuah debu yang akan hilang dengan berlarinya angin malam distu. Dan
berakhirlah penantian absurt dalan hidupku ini tentang sang surat yang sungguh
tak pernah terwujud dalam mimpi indah..